Selasa, 18 Desember 2012

Mau Jadi Investor atau Trader?


Jakarta - Kemarin ada pesan masuk di akun twitter saya @AidilAKBAR , isinya kira-kira seperti ini:

Mas @AidilAKBAR kalo liat #IHSG yang lagi tinggi gini baiknya pembelian Reksadana secara rutin setiap bulan ditunda dulu atau tetap jalan aja ya? #tanyaserius (kutipan langsung dari akun twit saya)

Saya Bertanya balik: lho? kata siapa IHSG tinggi?

Dijawab: Itu mas sudah 4300 dan NAB Reksadana nya juga udah tinggi, menurut mas gimana ya?

Saya tersering sekali mendapatkan pertanyaan seperti ini atau mirip-mirip seperti ini dan hanya bisa tersenyum sambil mengurut dada. Tipe seperti ini adalah tipe yang saya sebut pengen jadi investor tapi mentalitas trader alias pedagang.

Unik dan lucu di mana banyak sekali yang sudah belajar tentang bagaimana merencanakan keuangan yang baik melalui blog saya di www.aidilakbar.com dan sudah banyak yang mengerti bahwa investasi untuk jangka panjang, apalagi rutin dilakukan setiap bulan. Tapi apa daya, mungkin transaksi jual beli alias trading lebih keren daripada duduk diam pasrah mengikuti harga pasar yang naik turun.

Banyak juga teman-teman wartawan yang bertanya apakah IHSG di 4.300 sudah terlalu tinggi. Padahal pertanyaan yang sama diajukan beberapa tahun yang lalu ketika IHSG menembus angka 3.000 kemudian ke 3.300 lalu ke 4.000 dan seterusnya sampai sekarang.

Pertanyaan tersebut selalu saya jawab dengan pertanyaan kembali, apabila dalam 10 tahun lagi IHSG berpotensi naik menjadi 6.500 atau bahkan 8.000 apakah angka 4.000 sekarang sudah tinggi?

Memang tidak ada yang bisa menebak ke mana arahnya investasi dan IHSG apalagi 10 tahun ke depan. Tapi sejarah di Amerika, Eropa maupun di Indonesia grafiknya menunjukan kenaikan dalam jangka panjang atau dengan kata lain, garis grafik di sebelah kanan lebih tinggi dari kiri. Yang artinya potensi untuk naik tersebut memang ada.

Kembali ke contoh pertanyaan dari twit diatas, salah satu rumus sukses dari berinvestasi dalam jangka panjang, khususnya di reksa dana, menggunakan metode dolar cost averaging (di Indonesia mungkin tepatnya Rupiah cost averaging).

Yang artinya, tidak peduli pasar atau bursa naik atau turun, kita akan invest secara rutin setiap bulan. Sehingga dalam jangka panjang yang kita dapatkan adalah nilai rata-rata dari investasi kita. So, stop being a trader, start to become an investor. (sumber: http://finance.detik.com/read/2012/11/07/085642/2084207/722/mau-jadi-investor-atau-trader )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar